Pagi di Plumbon Kidul selalu dimulai dengan sunyi. Embun masih bergelayut di pucuk daun, sementara suara rantai sepeda terdengar lirih menembus kabut. Di atas sepeda itu, seorang remaja berwajah teduh mengayuh dengan tenang menuju sekolah. Namanya Faisal Shodiqin — anak panti yang kini menginspirasi banyak hati setelah meraih Medali Emas Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten Sleman.
Setiap hari, Faisal menempuh perjalanan empat kilometer dari Panti Asuhan Baitul Qowwam menuju SMP Muhammadiyah 1 Gendol, Tempel. Tak ada keluhan di wajahnya, hanya semangat yang tumbuh dari kebiasaan sederhana. Ia tidak pernah mengikuti les tambahan atau bimbingan belajar seperti teman-temannya. Semua keberhasilannya lahir dari disiplin, doa, dan kerja keras yang dijalani tanpa banyak kata. “Saya tidak menyangka bisa juara,” ujarnya perlahan ketika ditemui di Masjid Panti Asuhan Baitul Qowwam, Sabtu (1/11/2025).
“Soalnya sulit, waktunya juga terbatas. Tapi saya berusaha tenang dan mengerjakan sebaik mungkin.”
Di panti, setiap malam selalu sama. Setelah salat berjamaah, anak-anak duduk di ruang belajar kecil, menulis, membaca, dan mengulang pelajaran. Faisal termasuk yang paling tekun. Baginya, belajar bukan beban, melainkan cara berterima kasih kepada mereka yang telah menjaganya.
Faisal adalah putra Agus Riyanto, seorang pekerja harian yang menitipkannya di panti sejak kecil. Di sana, seluruh kebutuhan sekolah, seragam, dan makan sehari-hari ditanggung oleh panti. Namun lebih dari sekadar tempat tinggal, panti telah menjadi sekolah kehidupan bagi Faisal — tempat ia belajar tentang arti kesabaran, rasa syukur, dan kekuatan untuk terus melangkah. “Selain Matematika, saya juga suka IPA,” katanya sambil tersenyum malu. “Kalau nanti besar, saya ingin jadi guru Matematika. Saya ingin mengajari anak-anak lain supaya tidak takut belajar.”
Prestasi yang diraih Faisal bukan semata hasil kecerdasan, tetapi buah dari kebiasaan yang konsisten. Ia terbiasa tidur tepat waktu, bangun pagi, dan tidak pernah melewatkan jam belajar malam. Hidup di panti membuatnya paham bahwa kedisiplinan kecil, jika dilakukan terus-menerus, dapat membawa hasil besar.
Setiap malam sebelum tidur, Faisal selalu berdoa dalam diam. Ia tidak meminta banyak hal, hanya kekuatan untuk terus belajar dan menjadi orang yang berguna. Mungkin itulah yang membuat langkahnya selalu ringan — keyakinan bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh seberapa besar fasilitas, tetapi oleh seberapa tulus usaha dan niatnya.
Kini, medali emas yang menggantung di dinding panti menjadi saksi bahwa mimpi bisa tumbuh di mana saja, bahkan dari ruang sederhana yang penuh doa. Faisal tidak berhenti bermimpi; ia tahu perjalanannya masih panjang. “Saya ingin terus belajar,” katanya pelan. “Yang penting jangan cepat puas, karena belajar itu tidak ada akhirnya.”
Dan setiap pagi, suara sepedanya yang berderit kembali mengisi jalan kecil Plumbon Kidul — seolah menjadi pesan sunyi bagi siapa pun yang melihat:
bahwa dalam diam dan kesederhanaan, ada anak panti yang sedang menulis kisah juara dengan tinta ketekunan dan cahaya doa.
(Laporan: Sadhono Hadi / KIM Senyum Tempel)
https://senyumtempel.kim.id/berita/read/faisal-tanpa-les-tambahan-jadi-juar42924-340414200601