Panti Asuhan Baitul Qowwam

Ternyata Ada UMUR dan HARTA yang bebas HISAB !! Edisi 100 Kajian Kitab Ihya Ulumuddin Imam Al Ghazali H. Agus Triyanta MA, MH, Ph,D# Ternyata Ada UMUR dan HARTA yang Bebas Hisab, Apa Maksudnya? *SLEMAN* — Umur dan harta merupakan dua hal yang sering menjadi ukuran keberhasilan manusia dalam menjalani kehidupan. Semakin panjang usia, semakin banyak pengalaman yang dimiliki. Begitu pula harta, semakin besar jumlahnya, semakin banyak pula kesempatan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dan membantu orang lain. Namun, dalam perspektif Islam, keduanya bukan sekadar nikmat, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Hal tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam *Kajian Kitab *Ihya’ ‘Ulumuddin Imam Al-Ghazali Part #100** bersama *Ustadz H. Agus Triyanta, Ph.D.* di Pondok Pesantren Baitul Qowwam. Kajian tersebut mengajak jamaah melihat kembali cara memaknai umur dan harta. Keduanya dapat menjadi jalan menuju kebaikan apabila digunakan dengan benar. Sebaliknya, usia yang panjang dan kekayaan yang melimpah dapat menjadi persoalan apabila tidak diiringi amal dan tanggung jawab. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghitung berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan dan berapa lama usia yang telah dijalani. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana harta tersebut diperoleh dan untuk apa digunakan, serta bagaimana waktu yang diberikan Allah dimanfaatkan. *Umur bukan sekadar angka, tetapi kesempatan. Harta bukan sekadar kepemilikan, tetapi amanah.* Semakin panjang usia seseorang, semakin besar pula kesempatan untuk memperbanyak amal saleh. Waktu yang digunakan untuk belajar, bekerja dengan jujur, beribadah, membantu keluarga, menolong sesama, dan memberikan manfaat kepada masyarakat merupakan bagian dari investasi kehidupan yang tidak ternilai. Begitu pula dengan harta. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci kekayaan. Harta dapat menjadi sarana ibadah ketika diperoleh melalui jalan yang halal dan dibelanjakan untuk perkara yang diridai Allah. Zakat, sedekah, wakaf, membantu fakir miskin, membiayai pendidikan, serta memenuhi kebutuhan keluarga merupakan contoh bagaimana harta dapat berubah menjadi amal. Persoalannya bukan semata-mata **berapa banyak umur dan harta yang dimiliki**, tetapi bagaimana keduanya dipertanggungjawabkan. Pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin memberikan dorongan agar manusia tidak terjebak pada kehidupan yang hanya mengejar dunia. Kekayaan seharusnya berada di tangan, bukan menguasai hati. Demikian pula umur hendaknya tidak berlalu tanpa makna. Kajian Part #100 ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia memiliki batas. Harta yang dikumpulkan akan ditinggalkan ketika manusia meninggal dunia. Sementara umur yang telah berlalu tidak mungkin dikembalikan. Karena itu, kesempatan yang masih ada sebaiknya digunakan untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal kebajikan. Pada akhirnya, ukuran keberuntungan seorang muslim bukan hanya panjang umur atau banyaknya harta, melainkan **seberapa besar manfaat yang lahir dari umur dan harta tersebut**. Pesan ini menjadi penting di tengah kehidupan modern yang sering menjadikan materi dan usia sebagai simbol keberhasilan. Islam mengajarkan ukuran yang lebih dalam: keberkahan, kemanfaatan, kejujuran, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Melalui kajian ini, jamaah diajak untuk melakukan muhasabah. Jika Allah masih memberikan umur, gunakan untuk berbuat baik. Jika Allah memberikan harta, gunakan untuk kemanfaatan. Sebab, kesempatan hidup dan kekayaan yang dikelola dengan benar dapat menjadi bekal menuju kehidupan akhirat. *Simak Kajian Kitab *Ihya’ ‘Ulumuddin bersama Ustadz H. Agus Triyanta, Ph.D., Part #100. Semoga menjadi pengingat agar umur semakin berkah dan harta semakin bermanfaat.**