Tempel, BQnews
Halaman Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Baitul Qawam di Plumon, Mororejo, Tempel, Sleman dipenuhi suasana hangat pada Sabtu (18/7/2026) malam. Pengurus yayasan, dewan guru dan ustaz, para donatur, wali santri, alumni, serta ratusan santri putra dan putri berkumpul dalam puncak Pekan Khitobul Qudum 1447 Hijriah, sebuah momentum yang bukan sekadar seremoni penyambutan santri, tetapi juga ajang memperkuat nilai kebersamaan, pendidikan karakter, dan semangat menuntut ilmu.
Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut diawali dengan pembukaan, tilawah Al-Qur’an, penampilan kreativitas santri putra dan putri, sambutan Ketua Yayasan, pengenalan jajaran pengurus, pemutaran video kegiatan Pekan Ta’aruf, pemberian penghargaan kepada santri berprestasi, hingga tausiah dan doa penutup. Seluruh rangkaian berlangsung dalam suasana sederhana, namun sarat makna.
Ketua Yayasan Pendidikan Baitul Qawam, Aris Eko Purwanto, ST, dalam undangannya menyampaikan bahwa Khitobul Qudum menjadi agenda penting sebagai ajang silaturahmi seluruh keluarga besar Baitul Qawam sekaligus memperkenalkan lingkungan pendidikan kepada para santri baru beserta orang tua mereka.
Puncak acara diisi tausiah oleh Drs. H. Agus Triyanta, M.H., Ph.D. Penasehat Yayasan yang menyampaikan pesan-pesan kehidupan dengan gaya yang hangat dan menyentuh. Di hadapan para hadirin, ia mengaku terharu menyaksikan berbagai penampilan yang dibawakan para santri.
Bukan kemewahan panggung yang membuatnya tersentuh, melainkan semangat, keberanian, dan wajah-wajah ceria para santri yang tampil dengan penuh percaya diri.
“Saya berkaca-kaca melihat penampilan anak-anak. Bukan semata karena pertunjukannya, tetapi karena saya melihat mereka hidup di sini dengan ceria. Kebahagiaan adalah pintu yang akan membuka banyak keberkahan dan kesempatan dalam hidup,” ujar Ustadz Agus.
Menurutnya, kebahagiaan merupakan modal besar dalam proses pendidikan. Anak-anak yang mampu menikmati setiap proses kehidupan akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh ketika menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Karena itu, ia mengajak seluruh santri untuk tidak pernah memandang keterbatasan sebagai penghalang meraih cita-cita.
“Perjuangan, penderitaan, dan kesedihan adalah batu bata yang membangun fondasi masa depan. Jangan pernah merasa paling susah. Semua orang memiliki ujian masing-masing, tetapi yang membedakan adalah bagaimana kita menyikapinya,” katanya.
Dalam tausiahnya, juga membagikan pengalaman yang menguatkan keyakinannya bahwa keikhlasan akan selalu menghadirkan pertolongan Allah SWT. Ia menceritakan bagaimana Good Morning Children Foundation dari Singapura pertama kali mengenal Baitul Qawam melalui internet. Setelah datang langsung melihat kehidupan para santri, lembaga tersebut kemudian memberikan bantuan berupa komputer dan perpustakaan.
Tahun ini, bantuan kembali diberikan dalam bentuk kamera untuk mendukung dokumentasi kegiatan santri serta dana pengembangan fasilitas pendidikan.
Yang menarik, menurut Pak Agus, para donatur justru lebih terkesan melihat keceriaan para santri dibanding kondisi fisik bangunan pesantren.
“Mereka mengatakan bahwa anak-anak di sini tampak bahagia. Itulah yang membuat mereka percaya untuk terus mendukung Baitul Qawam. Keikhlasan dan semangat anak-anak menjadi bahasa universal yang mampu menyentuh siapa pun,” tuturnya.
Kehidupan sederhana yang dijalani para santri bukanlah sebuah kelemahan. Justru dari kesederhanaan itulah lahir pribadi-pribadi yang kuat, mandiri, dan memiliki daya juang tinggi.
Ia mengingatkan agar para santri tidak tumbuh dalam kemanjaan yang justru melemahkan karakter.
“Kemanjaan hanya akan melemahkan karakter. Sebaliknya, perjuangan akan membentuk pribadi yang kuat. Jangan minder dengan keadaan. Yang terpenting adalah memiliki keyakinan, ilmu, dan akhlak yang baik,” pesannya.
Di hadapan para pengurus dan wali santri, Agus juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru, ustaz, relawan, dan para donatur yang selama ini terus membersamai perjalanan Baitul Qawam. Menurutnya, keberlangsungan pesantren tidak hanya ditopang oleh fasilitas, tetapi oleh semangat gotong royong dan keikhlasan orang-orang yang mengabdi di dalamnya.
Ia menyebut salah satu indikator keberhasilan pendidikan di Baitul Qawam adalah semakin banyak alumni yang kini kembali mengabdikan diri sebagai guru dan pembina santri. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses kaderisasi berjalan baik dan terus melahirkan generasi penerus yang siap melanjutkan perjuangan.

“Keikhlasan adalah kekuatan yang tidak bisa diukur dengan angka. Saya percaya Baitul Qawam terus berkembang karena dibangun oleh orang-orang yang bekerja dengan hati. Ketika niatnya baik, Allah akan membuka jalan pertolongan dari arah yang tidak pernah kita sangka,” ungkapnya.
Menjelang akhir tausiah, Ustadz Agus mengajak seluruh keluarga besar Baitul Qawam untuk terus menjaga optimisme, meningkatkan kualitas pendidikan, serta membangun karakter santri yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan kepedulian sosial.
Ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan bukan semata-mata kemegahan sarana pendidikan, melainkan lahirnya generasi yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
“Jangan pernah berkecil hati karena fasilitas yang sederhana. Dengan keyakinan yang kuat, kerja keras, dan doa yang sungguh-sungguh, insyaallah cita-cita akan tercapai. Teruslah belajar, tetap berbuat baik, dan jadikan setiap langkah sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT,” pungkasnya.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Dr. Agus Triyanta. Suasana khidmat menyelimuti seluruh hadirin yang larut dalam harapan agar Yayasan Pendidikan Baitul Qawam terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak mulia, tangguh menghadapi tantangan zaman, serta mampu memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Puncak Pekan Khitobul Qudum 1447 Hijriah malam itu menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual. Lebih dari itu, pendidikan adalah proses menumbuhkan keteguhan hati, keikhlasan, dan optimisme. Dari senyum sederhana para santri Baitul Qawam, tumbuh harapan besar akan lahirnya generasi yang siap membawa nilai-nilai kebaikan bagi masa depan.
RepĀ Arief Hartanto Humas media BQ